Fakta Mutasi COVID-19

Fakta Mutasi COVID-19

Fakta Mutasi COVID-19, – Pandemik COVID-19 masih jauh dari kata usai. Sementara kita semua berusaha melindungi diri dari penularan sebaik mungkin, perkembangan terkini melaporkan adanya mutasi virus corona yang kali lebih menular dan katanya lebih berbahaya daripada virus aslinya yang berasal dari Wuhan, Tiongkok. Siapa yang tak makin khawatir?

Peringatan tanda bahaya level 3 di Indonesia dikeluarkan oleh Central Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Amerika Serikat juga sampai mengeluarkan peringatan untuk warganya agar tidak bepergian ke Indonesia, kecuali untuk kepentingan yang sangat mendesak. Peringatan ini juga diberlakukan oleh beberapa negara lain untuk tidak mengunjungi atau datang dari Indonesia.

Dikutip dari laman http://utowndc.com, Bagaimana fakta sebenarnya tentang mutasi virus corona yang ramai diperbincangkan ini? Apakah kita mesti ekstra waspada? Berikut ini informasinya.

Mutasi virus corona ini dikabarkan 10 kali lipat lebih menular daripada virus aslinya

mutasi virus corona yang menggemparkan orang-orang ini membuat virus SARS-CoV-2 ini menjadi lebih mudah menular. Bahkan, kemampuan penularannya mencapai 10 kali lipat. Malahan, menurut Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, mutasi tersebut menunjukkan adanya kemungkinan kemunculan gejala baru.

Berdasarkan riset terbaru yang diterbitkan dalam jurnal “Cell” pada Juli 2020 lalu, jenis virus corona yang menginfeksi seluruh dunia saat ini lebih berisiko untuk menginfeksi daripada virus awalnya yang ditemukan di Tiongkok. Nah, itulah kenapa virus ini dengan cepat menyebar sebagai pandemik di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Namun, benarkah demikian?

Sudah ada di Indonesia sejak Maret?

Dari pemberitaan, Kelompok Penelitian Virus Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF) menganalisis data sekuens genom virus corona secara menyeluruh yang dimuat di Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID).

Dari situ, ditemukan bahwa penyebaran virus corona jenis D614G sudah ada sejak awal SARS-CoV-2 ada di Indonesia. Perkiraannya, sekarang jumlahnya lebih banyak lagi.

Efek mutasi masih dipertanyakan

Mutasi yang dikenal dengan kode D614G ini dilaporkan ditemukan di 8 dari 22 sekuens genom yang diambil dari sampel masyarakat Indonesia. Meskipun begitu, mutasi yang memengaruhi tingkat penularan masih perlu dikaji lebih dalam, mengingat mutasi hanya terlihat di pengujian sel saja.

Ahli virologi Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, DVM, Ph.D, dari Universitas Udayana, Bali, berpendapat isu mutasi ini masih perlu dikaji lebih lanjut mengingat belum adanya uji eksperimen kepada makhluk hidup sesungguhnya dan belum ada pula jurnal kesehatan yang membahasnya.

Isu mutasi ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan

Permasalahan mutasi ini ternyata tak hanya dialami di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara lain. Dalam Sciencemag, Bette Korber dan koleganya di Los Alamos National Laboratory menunjukkan mutasi G614 umum terjadi di berbagai negara. Hal itu ditambahkan oleh Jeremy Luban dari University of Massachusetts Medical School, Amerika Serikat, yang mengatakan bahwa mutasi virus corona ini bisa tampak dalam bentuk durinya.

Namun, virolog Emma Hodcroft dari University of Basel, Swis, memberikan catatan penting terkait masalah mutasi virus.

“Kami memiliki kasus di mana kami benar-benar berpikir bahwa kami memiliki bukti mutasi yang mengubah perilaku virus. Namun, semakin banyak bukti yang datang, ternyata hasilnya tidak demikian,” ujarnya seperti dikutip di Sciencemag.

Secara garis besarnya, Emma menyimpulkan masalah mutasi ini belum tentu memberikan efek signifikan pada dunia nyata.

Tetap fokus menjaga diri dari penularan COVID-19

Mutasi COVID-19 memang nyata. Namun, jangan sampai hal tersebut membuatmu khawatir berlebihan. Tetap fokus pada upaya menjaga diri dari penularan COVID-19 dan mematuhi protokol kesehatan.

“Lakukan protokol aman COVID plus yang ketat dan disiplin. Faktor plus antara lain: hindari keramaian jika tak penting sekali, belanja ke pusat perbelanjaan yang tidak berkerumun dan semua orang pakai masker, hindari kendaraan umum yang berdesakan dan memakai AC,” tambah Prof. Mahardika menutup perbincangan.