Gangguan Mental Ini Rentan Dialami Remaja

Gangguan Mental Ini Rentan Dialami Remaja

Gangguan Mental Ini Rentan Dialami Remaja – Gangguan mental masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling banyak di dunia, termasuk di Indonesia. Tapi sayangnya, tak semua orang memiliki kesadaran akan kesehatan mentalnya. Padahal, siapa pun bisa mengalami gangguan mental, tak terkecuali Anda dan orang-orang terdekat Anda.

Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang dikeluarkan pada 2016, terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, dan 47,5 juta terkena demensia di seluruh dunia.

Umumnya, kebanyakan orang tua hanya fokus terhadap kesehatan fisik anak remajanya. Padahal, kesehatan mental juga wajib diperhatikan.

Sering kali gejala yang muncul tidak ditangani selama berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun, sehingga mengakibatkan gangguan mental yang lebih serius.

Menurut keterangan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), usia remaja (10-19 tahun) dikatakan unik dan berkaitan erat dengan arah pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Banyaknya perubahan fisik dan sosial, termasuk kondisi kemiskinan serta paparan terhadap kekerasan dan pelecehan, dapat membuat usia remaja rentan mengalami masalah kesehatan mental.

Memperhatikan kondisi psikis remaja dari pengalaman buruk dan faktor risiko yang dapat memengaruhi potensi mereka untuk berkembang selama masa remaja sangat penting, demi kesehatan mental dan fisiknya ketika dewasa nanti.

Gangguan kecemasan

Dilansir dari laman National Institute of Mental Health, kurang lebih 8 persen remaja usia 13-18 tahun mengalami gangguan kecemasan.

Remaja yang mengalami gangguan ini dapat berdampak pada kemampuannya untuk bersosialisasi dengan teman-temannnya, begitu juga pada pendidikannya. Pada kasus yang parah, gangguan kecemasan bisa membuat mereka takut untuk keluar rumah.

Bentuk dari gangguan kecemasan ini ada beberapa bentuk. Pada gangguan kecemasan umum, remaja jadi sering merasa cemas di semua bidang kehidupan. Pada gangguan kecemasan sosial, remaja mungkin kesulitan untuk bicara di kelas atau menghadiri acara sosial.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, gangguan kecemasan ini juga bisa mencakup gangguan panik, obsessive-compulsive disorder (OCD), dan post-traumatic stress disorder (PTSD).

Gejala yang dialami sudah pasti akan mengganggu aktivitas dan kualitas hidup remaja.

Gangguan makan

Dilansir dari laman Verywell Mind, gangguan makan cukup banyak ditemukan pada remaja. Faktor yang berpengaruh termasuk tekanan sosial untuk punya tubuh langsing. Media sosial, pemberitaan, dan lingkungan pergaulan sering kali membentuk kesadaran bahwa tubuh yang ideal adalah yang kurus langsing.

Banyak remaja yang mengalami masalah pencitraan tubuh (body image), sehingga membuat mereka melakukan banyak cara untuk menurunkan berat badan. Misalnya olahraga gila-gilaan hingga diet ekstrem.

Ada studi yang menyebut bahwa 1-2 persen remaja mengalami gangguan makan. Bahkan, gangguan ini bisa dialami sejak usia 12 tahun.

Gangguan makan yang perlu diwaspadai adalah anoreksia nervosa, bulimia, dan binge-eating disorder.

Pada anoreksia nervosa, penderita mengira dirinya gemuk, sehingga sangat membatasi asupan makanannya. Sering kali penderita olahraga berlebihan dan hanya makan dalam jumlah sangat sedikit. Kondisi ini lama-lama bisa mengakibatkan penipisan tulang, tekanan darah rendah, dan kerusakan di otak dan jantung. Pada kasus yang parah, akibatnya bisa fatal.

Pada kasus bulimia, biasanya remaja akan banyak berlebihan (binge-eating). Namun, sebagai kompensasi mereka diam-diam akan memuntahkan makanannya tersebut, penggunaan laksatif, atau olahraga secara berlebihan. Dampaknya secara fisik adalah dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, gangguan pencernaan, dan kerusakan gigi.

Sementara itu, remaja dengan binge-eating disorder akan makan secara berlebihan dalam satu waktu. Pemicunya bisa umumnya bersifat emosional, mungkin karena stres atau marah. Mereka merasa nyaman saat makan banyak, tapi setelahnya akan tumbuh rasa malu dan bersalah. Bila dibiarkan, lama-lama para remaja ini bisa mengalami tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular.